Home > Cerita Keluarga, History, Motivation, Religious, Suri Tauladan > Kisah Khalifah Umar RA Dimarahi Sang Istri

Kisah Khalifah Umar RA Dimarahi Sang Istri

Percikan Iman Alkisah suatu hari seorang seorang sahabat mendatangi bertengkar dengan Istrinya, dia merasa gundah akan keadaan dirinya, dan berniat mendatangi Khalifah Umar Bin Khatab untuk mengadukan permasalahannya, dengan gontai dia berjalan menuju rumah khalifah Umar, setiba di rumah Khalifah Umar langkahnya terhenti, di depan pintu dia mendengar Khalifah umar sedang di “omeli” habis-habisan oleh seorang wanita, yang kemudian dia kenali adalah Istri Khalifah Umar, dan karena pintu rumah Khalifah sedikit terbuka, dia melihat Khalifah sangat menyedihkan, tak melawan hanya diam saja, seketika itu niatnya untuk mengadu pada Khalifah Umar terhenti. Dan saat dia berbalik arah hendak
pulang, sebuah panggilan dari dalam rumah menghentikan langkahnya.

“Wahai, Fulan bin Fulan, ada apa gerangan dirimu” Kata Khalifah.

“Tidak Khalifah, saya lihat anda sedang sibuk, lebih baik saya tunda saja kunjungan saya” kata si Fulan

Seketika Khalifah berdiri membuka pintu, dan menarik tangan orang tersebut masuk, kata Khalifah

“Aku sudah berjanji menjadi Khalifah dan siap menerima pengaduan dari rakyatku kapanpun, ayo masuklah” kata sang Khalifah ramah.

Dengan canggung laki-laki itu memasuki bertipe RTSS (Rumah Teramat Sangat Sederhana) milik khalifah Umar Bin Khatab. Kemudian duduklah dia di depan Khalifah Umar, setelah menikmati hidangan sekedarnya, Khalifah Umar mulai bertanya kepadaNya…

“Ada apa gerangan yang membuatmu kemari wahai Fulan, katakan padaku, permasalahan apa yang engkau hadapi” kata Khalifah Umar

Seketika itu wajah si Fulan berubah merah, dia malu, atas masalah yang hendak dia adukan.

Khalifah yang melihat gelagat ini terdiam dan menunggu dengan sabar, kemudian menepuk-nepuk bahu si fulan, setelah itu, menanyakan kembali pertanyaan yang sama.

Hingga tiga kali barulah si Fulan menjawab dengan canggung.

“Khalifah Umar masalahku tak sebesar apa yang kau hadapi, aku melihatmu tadi di omeli Istrimu sedemikian rupa dan engkau hanya diam saja, tak marah, ataupun menegurmya, bagaimana engkau mampu berbuat demikian? ”

Khalifah tersenyum sejenak kemudian, dia melihat ke arah si Fulan,mengajaknya berputar melihat sekeliling rumahnya, kemudian mengajak si Fulan duduk kembali.

Kata Khalifah kemudian, “Kamu lihat rumahku teramat sangat sederhana, jangankan pembantu, untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang aku tak mampu memberikannya pada Istriku, dan aku sama sekali tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya karena kesibukanku sebagai Khalifah.
Tahukah kamu seberapa berat beban yang harus dia tanggung, setelah dia membersihkan seisi rumah sendiri, memasak untuk diriku, merawat danmendidik anak-anakku.

Semua dia lakukan sendiri karena saya tidak bisa membayar pembantu untuk meringankan bebannya, padahal semua itu adalah tugas saya. Memuliakan seorang istri di dalam rumahnya adalah tugas suami. Tapi saya terlalu miskin menggaji pembantu sehingga dia harus mengerjakan semua sendiri. Untuk itu hanya sekedar di omeli saja kenapa saya harus marah, demi melihat pengorbanannya kepada keluarga.

Dari cerita keluarga Umar, betapa seharusnya seorang perempuan di muliakan oleh suaminya, seorang perempuan seyogyanya di berikan kenyamanan dalam rumahnya, perlindungan, dan juga penghormatan.

Bagaimana dengan Anda ????

Source: Percikan Iman

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: